Rabu, 30 November 2011

uji tetrazolium

ACARA III
UJI TETRAZOLIUM
A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Benih yang diharapkan petani adalah benih yang memiliki viabilitas benih dan vigor yang tinggi. Hal itu disebabkan karena viabilitas dan vigor benih merupakan salah satu parameter yang perlu dipertimbangkan sebelum benih disimpan, didistribusikan dan ditanam. Uji viabilitas benih memberikan informasi kemampuan berkecambah suatu benih pada suatu kondisi tertentu. Uji viabilitas dapat dilakukan dengan pengecambahan benih dan diamati daya kecambah dan kekuatan kecambahnya.
Salah satu metode yang digunakan untuk menduga kualitas benih adalah uji tetrazolium (TZ). Uji tetrazolium bertujuan dalam mengaktifkan sel/jaringan benih dan membedakan antara sel atau jaringan yang hidup atau mati. Uji tersebut sangat cepat dan tepat apabila diaplikasikan pada benih yang yang mengalami dormansi dan mengalami pemasakan lanjutan (after ripening).
Uji tetrazolium sangat perlu diketahui untuk mengefektifkan proses persemaian benih, terutama pada benih-benih dorman. Selain itu, uji ini juga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Oleh karena itu,  pada Praktikum Teknologi Benih Lajutan ini akan dilakukan uji tetrazolium untuk mengetahui apakah benih yang diamati merupakan benih hidup atau benih mati. Meskipun uji tetrazolium belum tentu membuktikan bahwa viabilitas tanaman itu baik, tetapi secara tidak langsung uji ini dapat mempermudah untuk mengetahui kondisi benih.
2.      Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Teknologi Benih Lanjutan acara III adalah untuk menguji viabilitas benih secara cepat dan tidak langsung.
B.     Tinjauan Pustaka
Kekurangan yang terjadi pada uji perkecambahan secara langsung dapat diatasi apabila viabilitas benih dapat diukur dengan suatu penduga biokimia di aktivitas metabolisme benih. Di dalam suatu uji biokimia tanda terjadinya proses reduksi dalam sel hidup dihasilkan oleh reduksi di suatu indikator. Garam tetrazolium merupakan bahan yang tidak berwarna, di dalam jaringan sel hi bahan ini akan ikut serta dalam proses reduksi (Soejadi et al., 2001).
Pengujian viabilitas ada beberapa macam yaitu pengujian pemotongan (cutting test), tetrazolium (TZ), pemotongan embrio, dan pengujian hydrogen peroksida (H2O2). Pengujian viabilitas benih biasanya kurang tepat diterapkan untuk benih-benih yang berukuran sangat  kecil, bahkan teknik pengambilan/pemotongan embrio hampir tidak mungkin dilakukan. Untuk memudahkan dalam pengujian benih, benih yang digunakan harus berukuran agak besar seperti sengon buto (Enterolobium cyclocarpum Jacq.) (Hendri, 2008).
Pada pengujian secara biokimia akan terjadi proses reduksi pada jaringan hidup. Proses reduksi ini menjadi ciri bahwa benih yang diuji tersebut hidup. Bahan yang digunakan untuk pengujian adalah garam tetrazolium. Pada jaringan hidup, jika benih mengimbibisi larutan ini maka terjadi proses reduksi. Dengan adanya prosese dehidrogenase maka larutan 2,3,5 triphenyl tetrazolium chlorode atau bromide akan berwarna merah sehingga jaringan yang hidup berwarna merah stabil dan merupakan substan yang tidak terlarut oleh triphenyl formazan yang dihasilkan oleh jaringan hidup. Jaringan yang hidup berwarna merah dan yang akan mati tidak berwarna (Kuswanto, 2007).
Prinsip kerja uji Tetrazolium adalah berdasarkan perbedaan warna dari benih setelah direndam dalam larutan Tetrazolium. Jaringan dalam benih itu hidup akan menghasilkan suatu reaksi pada benih dengan menimbulkan warna merah. Sedangkan jika tidak menimbulkan warna menunjukan bahwa benih sudah mati ( Chapman dan Lark, 2005).
Beberapa metode uji cepat yang biasa digunakan untuk menduga kualitas benih adalah uji tetrazolium, uji hidrogen peroksida, uji belah, metode radiografi, uji eksisi embrio, dan uji konduktivitas. Faktor yang mempengaruhi kesuaian jenis terhadap metode tertentu adalah karakter, ukuran, tipe dormansi dan ketahanan benih dalam kondisi tanpa kulit. Pengetahuan tentang karakter benih memberikan petunjuk bagaimana benih tersebut ditangani agar tetap memiliki vigor optimum hingga akan ditanam kembali, demikian juga dalam pengujian kualitasnya, yaitu harus diuji dengan metode yang lebih cepat (TZ, uji belah dan kontras radiografi) (Byrd, 1988).
Uji tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih dan uji cepat viabilitas.  Disebut uji biokhemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses biokimia yang berlangsung di dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio.  Disebut uji cepat viabilitas karena indiksi yang diperoleh dari pengujian tetrazolium bukan berupa perwujudan kecambah, melainkan pola-pola pewarnaan pada embrio, sehingga waktu yang diperlukan untuk pengujian tetrazolium tidak sepanjang waktu yang diperlukan untuk pengujian yang indikasinya berupa kecambah. Kegunaan uji tetrazolium antara lain untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, viabilitas benih dorman, hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih (Vega, 2011).
C.    Metodologi Praktikum
1.      Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Teknologi Benih Lanjutan acara III dilaksanakan pada Hari Kamis, 3 November 2011, bertempat di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2.      Alat dan Bahan
a.       Alat
1)      Gelas piala
2)      Petridish
3)      Oven
4)      pH meter
b.      Bahan
1)      Benih tanaman pangan : jagung, kacang tanah
2)      Garam tetrazolium
3)      KH2PO4 dan Na2HPO4.2H2O
3.      Cara Kerja
a.       Merendam benih padi dalam lartan KNO3 1%, 2%, 3%, 4% dan HNO3.
b.      Membuat larutan penyangga dengan melarutkan 9,078 gr KH2PO4 dan 11,876 gr Na2HPO4.2H2O (masing-masing dalam 1000 ml air).
c.       Mencampurkan 400 ml larutan pertama dan 600 ml larutan kedua.
d.      Melakukan test pH larutan dengan pH meter.
e.       Melarutkan 10 gr garam tetrazolium dalam larutan penyangga.
f.       Membelah benih yang telah direndam melalui embryonic axis dan kemudian merendam dalam larutan garam tetrazolium tersebut sampai 0,5 dan 1 jam dalam temperature 400°C dalam oven.
g.      Mencuci benih dan melakukan pengamatan, menghitung benih yang viabel maupun yang non viabel dengan pewarnaan dari lembaga.
h.      Menggambar struktur benih beserta bagia-bagiannya.
4.      Pengamatan yang Dilakukan
a.       Warna embrio setelah direndam dalam larutan tetrazolium
b.      Benih yang hidup dan mati
5.      Analisis Data



D.    Hasil dan Pembahasan
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Uji Tetrazolium  pada Benih Jagung (Zea mays)
Ulangan
Indikasi Warna
Merah Cerah
Merah Muda
Merah Tua
Merah Sebagian
1
0
1
0
0
2
0
1
0
0
3
0
1
0
0
Jumlah
0
3
0
0
Rerata
0
1
0
0
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 3.2 Hasil Pengamatan Uji Tetrazolium  pada Benih Kedelai (Glacyne max)
Ulangan
Indikasi Warna
Merah Cerah
Merah Muda
Merah Tua
Merah Sebagian
1
0
1
0
0
2
0
1
0
0
3
0
1
0
0
Jumlah
0
3
0
0
Rerata
0
1
0
0
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 3.3 Hasil Pengamatan Uji Tetrazolium  pada Benih Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Ulangan
Indikasi Warna
Merah Cerah
Merah Muda
Merah Tua
Putih
1
0
1
0
0
2
0
1
0
0
3
0
0
0
1
Jumlah
0
2
0
0
Rerata
0
0,67
0
0,33
2.      Pembahasan
Uji Tetrazolium (TZ) merupakan salah satu uji kualitas benih dengan mengamati apakah suatu benih masih viabel atau tidak. Uji tersebut dilakukan dengan cara melihat warna yang timbul pada embrio benih akibat adanya reaksi dengan garam tetrazolium. Prinsip metode TZ adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih, enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi. Kriteria pewarnaan dalam uji Tetrazolium antara lain:
a.       merah cerah           : jaringan masih hidup atau benih viabel
b.      merah muda          : jaringan  atau viabilitas sudah lemah
c.       merah tua              : jaringan rusak
d.      tidak berwarna      : jaringan sudah mati  (Byrd, 1988).
Struktur benih meliputi kulit benih, embrio, radikula, kotiledon beserta jaringan-jaringan penghubungnya. Oleh karena itu, evaluasi pola pewarnaan tidak hanya dilakukan pada bagian luar benih saja tetapi juga dilakukan pada bagian dalam kotiledon benih. Benih dikatakan viabel apabila ujung radikula, bagian penghubung antara radikula dan kotiledon, bagian penghubung antara radikula dan hilum serta bagian dalam kotiledon yang tidak membentuk spot berwarna merah muda.
Uji tetrazolium yang dilakukan pada praktikum Teknologi Benih Lanjutan acara III diketahui bahwa benih jagung dan benih kedelai yang berwarna merah muda masing-masing sebanyak 3 benih. Sedangkan, benih kacang hijau  yang berwarna merah muda sebanyak 2 benih dan 1 berwarna putih. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa benih kedelai dan jagung masih memiliki viabilitas yang baik, sedangkan pada benih kacag hijau terdapat benih yang viabel dan tidak, karena masih ada benih yang berwarna putih. 
Uji tetrazolium merupakan salah satu pengujian viabilitas benih secara cepat dan tidak langsung. Hal ini dikarenakan, uji tersebut dapat dilakukan tanpa mengecambahkan benih terlebih dahulu, tetapi dengan menggunakan zat kimia 2, 3, 5 Triphenyl Tetrazolium Kloride (garam tetrazolium). Metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme benih serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. Uji cepat memiliki tujuan menentukan secara cepat kualitas benih suatu jenis yang berkecambah lambat atau menunjukkan dormansi di bawah perkecambahan normal, benih yang mengalami pemasakan lanjutan (after ripening) dan menentukan viabilitas potensial dari suatu kelompok benih (Willan, 1985).
E.     Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Teknologi Benih Lanjutan acara III dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
a.       Uji Tetrazolium (TZ) merupakan salah satu uji kualitas benih dengan mengamati apakah suatu benih masih viabel atau tidak.
b.      Benih dinyatakan viabel apabila berwarna merah muda dan non viabel apabila berwarna putih.
c.       Uji tetrazolium merupakan uji cepat dan tidak langsung, karena tidak perlu dikecambahkan terlebih dahulu dan didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik benih.
d.      Uji tetrazolium baik dilakukan untuk benih-benih yang mengalami dormansi dan pemasakan lanjut (after ripening).
2.      Saran
Sebaiknya, praktikum uji tetrazolium ini juga dilakukan pada benih-benih dorman seperti bawang merah dan kentang sehingga akan diketahui apakah benar-benar dapat diaplikasikan pada benih dorman.
 
Daftar Pustaka

Byrd, H.W. 1988. Pedoman Teknologi Benih. State College. Mississipi
Chapman, S.R., and Lark P.C.2005. Crop Production Principle and Practise. WH Freeman Co. SF.
Hendri, Gus. 2008. Uji Viabilitas Benih. http://hendriyanar08.student.ipb.ac.id/2011/03/27/uji-viabilitas-benih/. Diakses tanggal 1 November 2011.
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Soejadi, G, Sadiman,I. 2001. Identifikasi Tingkat Kemunduran Benih Kedelai Melalui daya hantar listrik dan Viabilitas. AgrijurnalVIII(2): 38-49.
Vega. 2011. Dormansi dan Viabilitas Benih. http://veganojustice.wordpress.com/. Diakses tanggal 1 November 2011.
Willan, R.L. 1985. A Guide to Forest Seed Handling. DANIDA Forest Seed Centre Hunleabeak. FAO. Denmark.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar